Samarinda – Saat ini, wilayah Kalimantan Timur dinilai perlu mengurangi ketergantungan terhadap industri tambang. Oleh karena itu, pengembangan ekowisata dinilai akan menjadi solusi atas ketergantungan Kaltim terhadap sektor pertambangan. Apalagi saat ini iklim ekonomi global lebih menomorsatukan sumber energi yang ramah lingkungan.
Urgensi Upaya Pengembangan Ekowisata di Kalimantan Timur
Pengembangan ekowisata menjadi krusial ketika diversifikasi ekonomi perlu dipersiapkan sebaik mungkin sebelum ranah internasional kehilangan minat terhadap sumber energi yang berasal dari energi fosil dan migas. Urgensi dari upaya pengembangan ekowisata kembali menjadi sangat penting karena upaya penurunan emisi dan jejak karbon semakin ramai digemakan.
Yayasan Mitra Hijau memandang sektor ekowisata mampu menjadi pilihan sumber ekonomi terbaru di provinsi Kalimantan Timur. Dalam diskusi kelompok bertajuk “Membangun Ekowisata Berkelanjutan Untuk Menurunkan Emisi & Jejak Karbon di Kaltim”, Yayasan Mitra Hijau berhasil mengumpulkan masukan dimana Kaltim harus segera bertransisi dari segi ekonomi.
“Perlu alternatif, yang berkelanjutan. Salah satunya seperti ekowisata,” ungkap Dicky Edwin Hiendarto dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau.
Baca juga: Dukung Pengembangan Desa Wisata, DPMD Kukar Lakukan Perluasan EKI
Korelasi Sektor Ekowisata Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kaltim
Sebagai daerah yang kaya akan SDA (Sumber Daya Alam), Kalimantan Timur harus segera memilih alternatif pendapatan ekonomi demi menjaga kelangsung sumber daya alam tersebut di masa depan.
Alternatif upaya pengembangan ekowisata sebagai alternatif pendapatan ekonomi dipilih berdasarkan pertimbangan spesifik. Saat ini, Benua Etam memiliki bentang alam Kaltim dari mulai laut hingga gunung, sehingga upaya pengembangan ekowisata yang dilakukan secara serius bisa dipastikan akan mendatangkan hasil yang positif.
Saat ini kontribusi sektor ekowisata semakin bertumbuh di Kaltim. Di tahun 2022, sektor ekowisata menyumbangkan sekitar 1,61% dan kemudian di tahun 2023, angka tersebut meningkat di angka 1,74%. Fajar Alam selaku akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kaltim menyebutkan bahwa saat ini Kaltim harus berfokus pada tahapan ekonomi masa depan.
“Alternatif itu pun harus bervariasi, biar jadi sumber ekonomi yang lebih baik,” jelas Fajar Alam dalam kapasitasnya sebagai akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur.
