HomeBisnisInilah Faktor Paling Penting Penentu Deflasi 2025 di Kaltim

Inilah Faktor Paling Penting Penentu Deflasi 2025 di Kaltim

Samarinda – Deflasi 2025 kembali hadir di provinsi Kaltim. Hal ini terlihat dari Indeks Harga Konsumen dari Provinsi Kaltim yang mengalami penurunan harga sebesar – 0,35% month – to – month. Artinya, saat ini tekanan harga di Kalimantan Timur pada bulan Mei 2025 mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Pentingnya Deflasi 2025 Bagi Kualitas Ekonomi Provinsi Kaltim

Budi Widihartanto selaku Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur menyebutkan bahwa penurunan harga yang terjadi di Benua Etam dipengaruhi oleh kesesuaian pasokan beberapa komoditas dan faktor musiman yang terhubung dengan adanya panen raya dari berbagai daerah pemasok utama di provinsi Kaltim seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan hingga Kalimantan Selatan.

“Deflasi ini sejalan dengan tren nasional, di mana IHK Indonesia juga mengalami deflasi sebesar -0,37 persen (mtm). Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Kaltim tercatat sebesar 1,03 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) berada di angka 1,30 persen,” jelas Budi Widihartanto dalam kapasitasnya sebagai Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur.

Lebih lanjut, Budi Widihartanto menyebutkan bahwa deflasi 2025 kali ini paling besar pengaruhnya pada sektor tembakau, makanan dan minuman. Besaran deflasi 2025 yang terjadi pun mencapai angka 0,56% month – to – month.

“Deflasi pada kelompok ini utamanya disebabkan oleh panen raya di daerah pemasok komoditas pangan seperti cabai rawit dan bawang merah,” kata Budi Widihartanto dalam kapasitasnya sebagai Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur.

Baca juga: Keberhasilan Kaltim Raih Stabilitas Ekonomi di Tengah Guncangan Global

Upaya Tim Pengendali Inflasi Daerah Kaltim Kuatkan Ekonomi

Deflasi 2025 juga terjadi di sektor perumahan, listrik, bahan bakar rumah tangga dan air yang mengalami deflasi sebesar 0,01% karena adanya penurunan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Namun, sektor transportasi mengalami inflasi sebesar 0,14% karena adanya lonjakan tarif angkutan udara bertepatan dengan momen libur panjang pada bulan Mei kemarin.

“Diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya akibat peningkatan harga emas,” sebut Budi Widihartanto dalam kapasitasnya sebagai Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur.

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kaltim mengaku akan terus berusaha agar stabilitas harga terus terjaga. Salah satu upaya yang dilakukan adalah meluncurkan GNPIP (Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan.

Kedepannya, TPID akan meningkatkan produksi sektor pertanian dan mendorong kesejahteraan petani lewat pelaksanaan program mekanisme pertanian, pemberian bantuan pupuk, pengadaan sarana prasarana tani modern hingga program digital farming.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular