Jakarta – Sejak Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat mengumumkan penerapan tarif impor & resiprokal, perang tarif tidak akan terelakkan bagi kedua negara karena Tiongkok mempunyai rencana untuk melakukan kebijakan serupa kepada Amerika Serikat.
Kebijakan Perdagangan Penyebab Perang Tarif
Pada awal bulan April, dunia internasional dikejutkan dengan pemberlakuan kebijakan perdagangan dari Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat telah mengumumkan kebijakan penerapan tarif impor resiprokal kepada sejumlah negara di berbagai benua.
Kepala negara tersebut memberikan klaim bahwa tarif impor yang ia tetapkan besarannya hanya setengah dari tarif yang dikenakan negara lain kepada Amerika Serikat jika diperhitungkan dari sisi manipulasi mata uang dan juga berbagai faktor hambatan perdagangan lain.
Presiden Amerika Serikat sendiri menyakinkan warganya jika upaya penerapan kebijakan tarif tersebut akan berperan besar dalam usaha menumbuhkan ekonomi Amerika Serikat. Namun disisi lain, berbagai negara pun mengambil sikap untuk menghindari terjadinya perang tarif.
“Tidak semua orang sependapat. Tarif akan memberi kita pertumbuhan,” ujar Donald Trump selaku Presiden Amerika Serikat sebagaimana dilansir dari Kompas.
Baca juga: Indonesia Jadi 15 Negara Tertinggi Defisit Perdagangan Paska Kebijakan Tarif
Pemicu Perang Tarif Antara Amerika Serikat VS Tiongkok
Ditengah terjadinya kerugian pasar yang begitu tajam dan kekhawatiran global akan terjadinya resesi paska diberlakukan kebijakan tarif usulannya, Kepala Negara Amerika Serikat tersebut justru memandang sebelah mata upaya berbagai kepala negara lainnya yang mengusulkan kerja sama atau kesepakatan tertentu.
Di bawah tekanan internasional, Presiden Amerika Serikat memutuskan untuk melakukan penundaan terhadap upaya penerapan kebijakan tarif resiprokal dalam jangka waktu 90 hari terhadap berbagai negara, terkecuali negara Tiongkok.
Lewat unggahannya di media sosial, Presiden AS tersebut mengakui pihaknya telah mengesahkan kelonggaran jeda tarif berupa penundaan selama 90 hari kepada setidaknya 75 negara yang telah menghubunginya demi bernegosiasi terkait penetapan kebijakan tarif tersebut.
Diantara berbagai negara yang terkena dampak kebijakan tarif, negara Tiongkok merupakan negara yang terkena tarif resiprokal paling tinggi di angka 54%. Diketahui kegiatan perdagangan barang antara negara Amerika Serikat dan Tiongkok mencapai USD 585 miliar di tahun 2024, Amerika Serikat lebih banyak mengimpor dari Tiongkok dengan perbedaan mencapai USD 440 miliar.
Kini situasi perang tarif kian memanas ketika masing – masing negara Amerika Serikat dan Tiongkok saling menyerang tarif. Negara Tiongkok diketahui membalas kebijakan tarif dengan memberlakukan tarif impor sebesar 125% terhadap negara AS sebagai balasan dari negara AS yang memberlakukan tarif impor sebesar 145% kepada negara Tiongkok.
