Jakarta – Sebagai negara tropis dan subtropis, Indonesia mempunyai tantangan infeksi dengue yang cukup signifikan. Oleh karena itu, upaya penanggulangan demam berdarah harus dilakukan secara serius demi mengamankan kesehatan masyarakat Indonesia.
Sayangnya, sampai saat ini belum diketahui tata laksana cara penanggulangan demam berdarah yang didesain secara spesifik untuk mengatasi dan melakukan manajemen klinis dari infeksi penyakit dengue. Akibatnya, sampai saat ini penyakit demam berdarah masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup serius di negara Indonesia.
Upaya Penanggulangan Demam Berdarah di Indonesia
Sebagaimana diketahui, penyakit demam berdarah diakibatkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti, angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) dari penyakit tersebut pun tercatat cukup tinggi.
Sampai saat ini penanggulangan demam berdarah yang dilakukan berfokus pada upaya pencegahan infeksi mengingat angka infeksi terhadap anak dan dewasa masih cukup tinggi.
“Infeksi dengue merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di daerah tropis dan subtropis di dunia. Walaupun angka kematian ini cenderung menurun, tapi angka insidensi dan angka kematian absolut sesungguhnya sangat tinggi,” kata Prof. dr. Eggi Arguni dalam kapasitasnya sebagai Guru Besar bidang Ilmu Kesehatan Anak di FK-KMK UGM.
Baca juga:Terkena Pneumonia Ganda, Seperti Ini Status Kesehatan Paus Fransiskus
Solusi Inovatif Penanggulangan Demam Berdarah
Lebih lanjut, Prof. Dr. Eggi Arguni menegaskan bahwa upaya penanggulangan demam berdarah seperti terapi infeksi dengue dan diagnosa hanya bersifat simptomatik atau supportif.
Pasien anak yang menderita gejala infeksi dengue tanpa tanda peringatan dirawat jalan dengan pemberian edukasi pada orangtua. Penggunaan obat – obatan non steroidal anti inflammatory harus dihindari karena dapat menjadi pemicu terjadinya pendarahan.
“Karena belum tersedia obat antivirus yang spesifik, maka terapi cairan masih merupakan terapi utama untuk dengue,” ujar Prof. dr. Eggi Arguni dalam kapasitasnya sebagai Guru Besar bidang Ilmu Kesehatan Anak di FK-KMK UGM.
Menyikapi hal tersebut, Prof. dr. Eggi Arguni menyarankan metode teknologi nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia yang sebelumnya telah mendapatkan dukungan dari masyarakat dan berbagai kepala daerah. Jika implementasi pada skala luas bisa dilaksanakan, maka cara ini dapat menjadi metode penanggulangan demam berdarah yang efektif.
