Jakarta – Upaya pengendalian HIV internasional kini memasuki babak baru. Lenacapavir yang diketahui sebagai obat pencegah HIV dipastikan akan segera mengantongi izin untuk dijual. Sebagai obat pencegah HIV, Lenacapavir dipastikan mampu mencegah penularan HIV ketika penerimanya mendapatkan 2 suntikan setiap tahun.
Bukti Efektivitas Lenacapavir sebagai Obat Pencegah HIV
Saat ini Lenacapavir direncanakan akan digunakan sebagai bagian dari terapi pencegahan atau PrEP (Pre – Exposure Prophylaxis. Ketika berada dalam tahap uji klinis, Lenacapavir telah terbukti mampu mencegah infeksi HIV. Para peneliti memperkirakan, harga jual obat pencegah HIV tersebut akan menembus harga US$ 25.000 per tahun (Rp 405 juta dengan kalkulasi kurs Rp 16.200).
Terkait tingginya harga jual obat pencegah HIV tersebut, Dr. Andrew Hill dari Universitas of Liverpool menjabarkan analisisnya yang menghasilkan temuan biaya produksi obat Lenacapavir secara masal mampu ditekan hingga US$25 atau sekitar Rp 405.000/tahun. Harga tersebut sudah termasuk keuntungan 30% dengan skala pembelian 5 – 10 juta dosis setiap tahunnya.
”Bahkan, negara-negara berpenghasilan tinggi tidak akan mampu menggunakan lenacapavir secara luas jika harganya di atas USD 20 ribu per tahun,” ujar Dr. Andrew Hill dari Universitas of Liverpool dalam kapasitasnya sebagai pemimpin riset sebagaimana dilansir dari The Guardian.
Baca juga: Komitmen Kerjasama Internasional Atasi Perubahan Iklim
Tingginya Harga Lenacapavir Dikhawatirkan Hambat Pengendalian HIV
Dr. Andrew Hill menyebutkan fantastisnya harga dari Lenacapavir akan semakin meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya stagnasi usaha pengendalian penyakit HIV dalam ranah internasional. Sebagai informasi, pada tahun 2023 saja, tercatat ada 1,3 juta kasus infeksi baru di seluruh dunia.
WHO selaku organisasi kesehatan dunia menyebutkan saat ini ada sekitar 10 juta orang yang termasuk dalam golongan rentan dan butuh mengonsumsi obat pencegah HIV tersebut sesegera mungkin supaya target pengendalian penyakit HIV dalam skala internasional bisa segera tercapai.
”Kami mendesak Gilead menjadikan lenacapavir lebih terjangkau bagi semua yang membutuhkan. Menjualnya seribu kali lebih mahal sangatlah tidak etis. Kita tidak bisa mengakhiri AIDS jika obatnya terlalu mahal,” tegas Winnie Byanyima selaku Direktur Eksekutif UNAIDS (United Nations Programme on HIV/AIDS) sebagaimana dilansir dari The Guardian.
Saat ini, produsen obat Lenacapavir, Gilead Sciences, mengaku tengah berkolaborasi bersama dengan 6 produsen generik untuk merealisasikan penyediaan obat pencegah HIV versi murah di 120 negara berpenghasilan rendah. Gilead Sciences juga menyebutkan akan segera memberikan 2 juta dosis tanpa keuntungan sebelum nantinya versi generik masuk ke pasar dengan bebas.
