Kalimantan Timur – Pihak PT. Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) baru – baru ini menyatakan ketegasannya dalam menyukseskan program ketahanan pangan nasional sesuai dengan target swasembada pangan dari pihak Pemerintah dan juga arahan dari Kementerian BUMN (Badan Usaha Milik Negara).
Komitmen Pupuk Kaltim Jamin Upaya Ketahanan Pangan
Komitmen dukungan terhadap ketahanan pangan diwujudkan pada keberhasilan pencapaian kesediaan stok pupuk bersubsidi dan non – subsidi. Budi Wahyu Soesilo selaku Direktur Utama Pupuk Kaltim menjabarkan, sebagai produsen pupuk Urea terbesar di Indonesia dan juga kawasan Asia Tenggara, PT. Pupuk Kalimantan Timur akan selalu memastikan ketersediaan pupuk yang berkualitas untuk para petani Indonesia.
“Dengan kapasitas produksi sebesar 3.430.000 ton per tahun untuk Urea dan 300.000 ton per tahun untuk NPK, Pupuk Kaltim optimistis mampu memenuhi kebutuhan pupuk petani baik subsidi maupun nonsubsidi,” kata Budi Wahyu Soesilo dalam kapasitasnya sebagai Direktur Utama PT. Pupuk Kalimantan Timur.
Baca juga: Keberhasilan Kaltim Raih Stabilitas Ekonomi di Tengah Guncangan Global
PT. Pupuk Kalimantan Timur Dukung Upaya Hilirisasi
Tidak hanya berfokus kepada upaya pengadaan pupuk berkualitas, Pupuk Kaltim juga bergerak aktif mendorong proses kemandirian industri petrokimia nasional dan tentunya program hilirisasi.
Salah satu upaya strategis yang diambil adalah dengan membangun pabrik soda ash pertama di Indonesia yang berada di Bontang, lebih tepatnya di area industri PT. Kaltim Industrial Estate.
“Pupuk Kaltim berkomitmen berperan aktif dalam peningkatan produktivitas pertanian dan mendorong industri petrokimia dalam negeri. Melalui inovasi dan penerapan teknologi, kami berharap dapat berkontribusi nyata untuk program-program prioritas pemerintah,” pungkas Budi Wahyu Soesilo dalam kapasitasnya sebagai Direktur Utama PT. Pupuk Kalimantan Timur.
Keberadaan pabrik tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan negara Indonesia terhadap impor bahan baku soda ash yang menjadi bagian penting dari produksi tekstil, kaca dan berbagai produk komoditas lain.
Keberadaan pabrik soda ash ini juga mampu menyerap setidaknya 170.000 ton karbon dioksida setiap tahunnya sebagai bahan baku dengan mengedepankan ekonomi sirkular. Selain itu, pabrik soda ash pertama di Indonesia ini juga diperkirakan akan menyerap setidaknya 800 tenaga kerja, terutama tenaga kerja asal lokal.
