Samarinda – Momen digitalisasi dan perubahan gaya hidup menjadikan kualitas kesehatan jiwa menjadi persoalan yang semakin mendesak untuk diatasi. BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) menyaksikan semakin tingginya angka gangguan kesehatan jiwa yang dialami oleh berbagai golongan dan kelompok usia.
Respons Terhadap Peningkatan Kasus Gangguan Kesehatan Jiwa
Untuk menindak semakin meningginya angka kasus terkait kesehatan mental, BRIN mendorong kesadaran masyarakat luas untuk membangun ketangguhan mental. Rofingatul Mubasyiroh selaku Peneliti Ahli Madya BRIN menyampaikan saat ini perempuan dan anak – anak termasuk sebagai golongan rentan dalam menghadapi tekanan psikologis.
Oleh karena itu, pihak BRIN menyelenggarakan kegiatan sosialisasi yang diikuti oleh lebih dari 100 peserta. Diharapkan, sosialisasi ini mampu menanamkan kesadaran bahwa keluarga memegang peran penting dalam membangun ketahanan mental dan kesehatan jiwa.
Rofingatul Mubasyiroh menyampaikan BRIN menyakini jika lingkungan internal keluarga sehat secara emosional maka setiap individu yang menjadi anggota keluarga tersebut memiliki fondasi kuat untuk menghadapi berbagai tantangan hidup.
“Semua berawal dari rumah. Ketangguhan mental bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga ayah, anak, bahkan anggota keluarga besar yang tinggal serumah,” jelas Rofingatul Mubasyiroh dalam kapasitasnya sebagai Peneliti Ahli Madya BRIN.
Baca juga: Bebas Repot, Layanan Kesehatan Gratis Bisa Dinikmati Hanya Dengan KTP
Kesehatan Jiwa Masih Dipandang Sebelah Mata
Rofingatul Mubasyiroh menyesalkan bahwa sampai saat ini, kesehatan jiwa masih seringkali diabaikan meski terbukti memberikan dampak negatif secara luas. Data yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan terkait gangguan mental dan emosional pada berbagai daerah di Indonesia, termasuk salah satu provinsi Kalimantan Timur.
“Meski belum ada data rinci terbaru, BRIN menilai isu ini tetap relevan dan perlu penanganan berkelanjutan,” ucap Rofingatul Mubasyiroh dalam kapasitasnya sebagai Peneliti Ahli Madya BRIN.
Saat ini pihak BRIN berfokus dalam upaya pengembangan inovasi penanganan kesehatan jiwa melalui teknologi chatbox. Teknologi tersebut telah dirancang secara khusus untuk memberikan bantuan kepada remaja untuk dapat mengenali dan mengelola kesehatan jiwa mereka melalui channel intervansi aktivitas yang sifatnya positif.
“Chatbot ini bisa menjadi teman curhat digital. Ketika remaja menyampaikan perasaan mereka, chatbot akan merespons dan mendorong mereka untuk melakukan aktivitas yang membantu pemulihan mental, seperti menulis jurnal atau berolahraga,” jelas Rofingatul Mubasyiroh dalam kapasitasnya sebagai Peneliti Ahli Madya BRIN.
